Kembali ke Blog

Cara Menghitung Lembur Karyawan Harian dengan Contoh

Payroll30 Agustus 20264 menit bacaTim Produk Vasco

Untuk pekerja berupah harian, PP 35/2021 mengonversi upah harian menjadi upah bulanan sebelum menghitung upah sejam dan pengali lembur.

Cara menghitung lembur karyawan harian dimulai dengan mengubah upah sehari menjadi upah sebulan ekuivalen. Menurut PP 35/2021, pekerja dengan sistem enam hari kerja memakai upah sehari × 25; sistem lima hari kerja memakai upah sehari × 21. Upah sejam kemudian dihitung 1/173 dari upah sebulan. Setelah itu baru diterapkan pengali sesuai hari dan jam lembur.[1]

Rumus hari kerja biasa

Tahap
Upah bulanan ekuivalen
Rumus
Upah harian × 25 (6 hari) atau × 21 (5 hari)
Contoh
Rp150.000 × 25 = Rp3.750.000
Tahap
Upah sejam
Rumus
Upah bulanan ÷ 173
Contoh
Rp3.750.000 ÷ 173 = Rp21.676,30
Tahap
Jam pertama
Rumus
1,5 × upah sejam
Contoh
Rp32.514,45
Tahap
Jam kedua
Rumus
2 × upah sejam
Contoh
Rp43.352,60
Tahap
Jam ketiga
Rumus
2 × upah sejam
Contoh
Rp43.352,60
Tahap
Total 3 jam
Rumus
5,5 × upah sejam
Contoh
Sekitar Rp119.219

Contoh memakai upah harian Rp150.000, pola enam hari kerja, dan tiga jam lembur pada hari kerja biasa. Pembulatan di tabel dilakukan pada hasil akhir. Tentukan aturan pembulatan yang konsisten di sistem payroll agar penjumlahan per jam tidak menghasilkan selisih dengan total. Jangan menyalin contoh ini untuk pola lima hari tanpa mengganti faktor konversinya.

Tarif berbeda untuk hari istirahat dan libur resmi

Pada hari kerja biasa, PP 35/2021 menetapkan 1,5 kali upah sejam untuk jam pertama dan 2 kali untuk jam berikutnya. Pekerjaan pada hari istirahat mingguan atau hari libur resmi memakai urutan pengali yang berbeda, dan rinciannya berbeda antara pola lima dan enam hari kerja serta hari kerja terpendek. Karena itu, kategori hari harus menjadi input wajib; formula “jumlah jam × 2” tidak cukup.[1]

Pastikan lemburnya sah sebagai input

  • Ada perintah dari pengusaha dan persetujuan pekerja secara tertulis atau melalui media digital.
  • Tanggal, waktu mulai, waktu selesai, durasi istirahat, dan pekerjaan dicatat.
  • Atasan menyetujui durasi final; check-out terlambat tidak otomatis menjadi lembur.
  • Kategori hari benar: hari kerja, istirahat mingguan, atau libur resmi.
  • Sistem kerja lima atau enam hari dan komponen upah yang menjadi dasar sudah benar.
  • Akumulasi lembur diperiksa terhadap batas dan pengecualian yang berlaku.

PP 35/2021 menetapkan batas umum lembur paling lama 4 jam dalam satu hari dan 18 jam dalam satu minggu, tidak termasuk lembur pada waktu istirahat mingguan atau hari libur resmi. Peraturan juga mengatur pengecualian untuk golongan jabatan tertentu yang ditetapkan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama. Jika golongan itu tidak diatur, kewajiban membayar lembur tetap berlaku menurut ketentuan tersebut.[1]

Periksa dasar upah, bukan hanya tarif harian

PP 36/2021 mengatur upah berdasarkan satuan waktu atau satuan hasil, komponen upah, dan pelindungan upah. Peraturan itu telah diubah terakhir melalui PP 49/2025. Untuk pekerja dengan tunjangan, satuan hasil, atau struktur lain, PP 35/2021 memiliki ketentuan tentang persentase dasar perhitungan lembur. Pastikan konfigurasi payroll sesuai komponen aktual dan aturan yang berlaku, bukan hanya memasukkan satu angka upah harian.[2],[3]

Contoh audit singkat

Dedi bekerja dengan upah harian Rp150.000 pada sistem enam hari. Atasan memerintahkan pekerjaan tambahan 17.00–20.00 dan Dedi menyetujuinya melalui media digital. Absensi cocok dengan tiga jam tersebut. Payroll mengonversi Rp150.000 × 25, membagi 173, lalu memakai pengali 1,5 + 2 + 2. Reviewer menyimpan perintah, persetujuan, waktu aktual, pola kerja, dan hasil perhitungan pada satu referensi.

Vasco membantu menghubungkan data absensi, persetujuan, dan payroll, tetapi tidak menggantikan penetapan dasar upah atau pemeriksaan hukum perusahaan. Saat konsultasi, siapkan satu contoh pekerja harian, komponen upahnya, pola kerja, serta kasus lembur hari biasa dan hari libur agar kebutuhan rumus dapat dipetakan dengan tepat.

Validasi rumus dengan tabel uji

Sebelum dipakai massal, uji nol, satu, dan empat jam lembur pada hari kerja; lalu uji hari istirahat untuk pola lima dan enam hari. Masukkan kasus perubahan upah di tengah periode, tunjangan tidak tetap, data lembur yang dibatalkan, dan persetujuan yang terlambat. Bandingkan hasil sistem dengan perhitungan manual reviewer, termasuk aturan pembulatan pada tiap tahap. Simpan hasil uji, input, dan versi formula setiap kali komponen upah berubah. Ulangi pengujian setelah perubahan jadwal kerja atau komponen tetap perusahaan. Kontrol ini lebih aman daripada menunggu seorang karyawan menemukan selisih pada slip gajinya.

Hitungan lembur baru dapat dipercaya setelah empat hal cocok: orangnya, waktunya, kategorinya, dan dasar upahnya.

Sumber

  1. [1]BPK — PP Nomor 35 Tahun 2021Diakses 30 Agustus 2026.
  2. [2]BPK — PP Nomor 36 Tahun 2021 tentang PengupahanDiakses 30 Agustus 2026.
  3. [3]BPK — PP Nomor 49 Tahun 2025Diakses 30 Agustus 2026.

Baca standar editorial Vasco untuk cara kami memilih sumber, menulis contoh, dan memperbarui koreksi.

Mau usahamu serapi ini?

Konsultasi gratis dengan tim kami, tanpa keharusan lanjut.