Kembali ke Blog

Perbedaan Purchase Order dan Invoice dalam Satu Alur Pembelian

Pembelian30 Agustus 20264 menit bacaTim Produk Vasco

PO adalah pesanan dari pembeli sebelum barang diterima, sedangkan invoice adalah tagihan dari penjual atas barang atau jasa yang diserahkan.

Perbedaan purchase order dan invoice paling mudah dilihat dari arah dokumennya. Purchase order atau PO dikirim pembeli kepada pemasok untuk menyatakan apa yang dipesan sebelum penerimaan. Invoice dikirim penjual kepada pembeli untuk menagih barang atau jasa yang telah diserahkan atau sesuai pemicu penagihan dalam kontrak. PO membuka komitmen pembelian; invoice membuka kewajiban pembayaran. Keduanya saling berhubungan, tetapi tidak dapat menggantikan satu sama lain.[1],[2]

Aspek
Penerbit
Purchase order
Pembeli
Invoice
Penjual atau pemasok
Aspek
Waktu
Purchase order
Sebelum barang/jasa diterima
Invoice
Setelah penyerahan atau pemicu kontrak
Aspek
Tujuan
Purchase order
Memesan dan memberi batas komitmen
Invoice
Meminta pembayaran
Aspek
Isi utama
Purchase order
Item, jumlah, harga, kirim, syarat
Invoice
Yang ditagih, tanggal, total, jatuh tempo
Aspek
Nomor referensi
Purchase order
Nomor PO
Invoice
Nomor invoice; biasanya merujuk nomor PO
Aspek
Status akhir
Purchase order
Diterima lengkap, ditutup, atau dibatalkan
Invoice
Dibayar, dikreditkan, atau disengketakan

Urutan dokumen yang benar

Alur umumnya adalah permintaan pembelian, persetujuan, PO, penerimaan barang atau jasa, invoice pemasok, verifikasi, lalu pembayaran. Pedoman procure-to-pay HMRC menempatkan PO sebelum penerimaan dan invoice, serta mencatat Goods Received Note saat barang diterima. Dalam pembayaran, dua dokumen dapat dicocokkan, yaitu PO dan invoice, atau tiga dokumen sekaligus dengan menambahkan catatan penerimaan. Three-way match membantu memastikan perusahaan hanya membayar barang atau jasa yang disetujui dan benar-benar diterima.[1]

Contoh satu transaksi

Perusahaan memesan 50 lembar papan seharga Rp200.000 per lembar. PO menunjukkan nilai Rp10.000.000. Gudang hanya menerima 45 lembar dan mencatat satu lembar rusak. Pemasok lalu mengirim invoice untuk 50 lembar. Jika finance hanya membaca invoice, tagihan terlihat sah. Jika dicocokkan dengan PO, harga dan batas jumlah sesuai. Namun ketika catatan penerimaan ikut diperiksa, hanya 44 lembar yang layak diterima. Tim harus menyelesaikan kekurangan dan kerusakan sebelum membayar nilai penuh.

Apa yang terjadi jika angka tidak cocok?

  • Harga invoice lebih tinggi dari PO: tahan selisih dan minta dasar perubahan atau invoice koreksi.
  • Jumlah invoice lebih besar dari penerimaan: periksa kiriman tertunda, barang rusak, atau salah input.
  • Invoice tidak mencantumkan nomor PO: kembalikan untuk dilengkapi jika kebijakan perusahaan mewajibkannya.
  • Barang diterima tanpa PO: eskalasi sebagai pembelian pengecualian, bukan membuat PO mundur tanpa catatan.
  • Invoice muncul dua kali: cek nomor invoice, pemasok, jumlah, dan referensi PO sebelum mencatat ulang.

Kebijakan DWP di Inggris, misalnya, memeriksa nomor PO pada invoice dan menahan validasi ketika jumlah invoice melebihi harga, kuantitas, atau total PO, atau ketika penerimaan belum dikonfirmasi. Aturan itu bukan hukum Indonesia, tetapi menunjukkan cara sebuah organisasi memakai nomor PO dan pencocokan dokumen sebagai kontrol pembayaran yang konkret.[2]

Invoice operasional bukan otomatis Faktur Pajak

Dalam praktik Indonesia, istilah invoice sering dipakai untuk tagihan komersial. Itu tidak otomatis menjadikannya Faktur Pajak. DJP mendefinisikan Faktur Pajak sebagai bukti pungutan pajak yang dibuat Pengusaha Kena Pajak atas penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak, dan ketentuannya mengatur pembuatan serta persetujuan e-Faktur. Karena itu, proses invoice operasional perlu dipisahkan dari kewajiban perpajakan. Periksa status transaksi dan ikuti saluran DJP atau penasihat pajakmu; jangan menganggap PDF tagihan biasa sudah memenuhi kewajiban Faktur Pajak.[3]

Siapa memegang dokumen apa?

Purchasing menjaga PO dan perubahan harga. Gudang atau penerima pekerjaan membuat catatan penerimaan berdasarkan kondisi nyata. Finance memeriksa invoice dan menjadwalkan pembayaran. Pemilik anggaran menyetujui pengecualian. Pemisahan ini membuat satu orang tidak dapat memesan, mengaku menerima, dan membayar transaksi yang sama tanpa pemeriksaan. Untuk tim kecil, setidaknya gunakan pemeriksaan kedua dan jejak persetujuan.

Sistem yang terhubung membuat nomor PO mengikuti transaksi sampai invoice dan stok, sehingga finance tidak perlu mencari dokumen di beberapa grup chat. Vasco mendukung alur operasional stok dan pembelian, tetapi bukan sistem akuntansi penuh atau mesin kepatuhan pajak otomatis. Kebijakan internal, kontrak, dan proses Faktur Pajak tetap menjadi tanggung jawab perusahaan. Rekonsiliasi PO terbuka, penerimaan yang belum ditagih, serta invoice yang belum dibayar setiap bulan untuk menemukan dokumen yang berhenti di tengah alur.

Sumber

  1. [1]HMRC — Procure to pay: purchase order, receipt, and invoice controlsDiakses 30 Agustus 2026.
  2. [2]GOV.UK — No Purchase Order, No Pay PolicyDiakses 30 Agustus 2026.
  3. [3]Direktorat Jenderal Pajak — Istilah Umum PPNDiakses 30 Agustus 2026.

Baca standar editorial Vasco untuk cara kami memilih sumber, menulis contoh, dan memperbarui koreksi.

Mau usahamu serapi ini?

Konsultasi gratis dengan tim kami, tanpa keharusan lanjut.