Analisis ABC mengurutkan item berdasarkan nilai pemakaian lalu membaginya ke kelas A, B, dan C supaya tenaga kontrol tidak dibagi rata.
Analisis ABC inventory adalah metode mengelompokkan item stok berdasarkan dampak nilainya agar kontrol lebih fokus. Kelas A berisi item yang memberi porsi nilai terbesar dan perlu pengawasan paling ketat, B berada di tengah, sedangkan C berisi banyak item bernilai relatif kecil. ASCM menjelaskan bahwa ABC membagi koleksi menjadi tiga kelompok berdasarkan volume item dan nilai uang, lalu memberi perhatian lebih besar pada kelompok A. Persentasenya adalah titik awal, bukan aturan wajib untuk semua bisnis.[2]
Rumus dasar analisis ABC
Untuk setiap item, hitung nilai pemakaian selama periode yang sama: kuantitas dipakai atau terjual selama setahun dikali biaya per unit. Gunakan biaya, bukan harga jual, supaya perbandingan konsisten dengan nilai persediaan. Lalu urutkan item dari nilai terbesar ke terkecil, hitung kontribusi setiap item terhadap total, dan buat persentase kumulatif.[1]
- Item
- Resin premium
- Pemakaian/tahun
- 120 pail
- Biaya/unit
- Rp2.000.000
- Nilai pemakaian
- Rp240.000.000
- Kumulatif
- 53%
- Kelas
- A
- Item
- Cat industri
- Pemakaian/tahun
- 300 pail
- Biaya/unit
- Rp500.000
- Nilai pemakaian
- Rp150.000.000
- Kumulatif
- 87%
- Kelas
- A
- Item
- Thinner
- Pemakaian/tahun
- 500 kaleng
- Biaya/unit
- Rp90.000
- Nilai pemakaian
- Rp45.000.000
- Kumulatif
- 97%
- Kelas
- B
- Item
- Kuas
- Pemakaian/tahun
- 1.000 buah
- Biaya/unit
- Rp15.000
- Nilai pemakaian
- Rp15.000.000
- Kumulatif
- 100%
- Kelas
- C
Dalam contoh sederhana, total nilai pemakaian Rp450 juta. Dua item pertama mewakili 87% nilai sehingga ditetapkan A, thinner B, dan kuas C. Batas ini sengaja mengikuti data contoh, bukan angka baku. Banyak perusahaan memakai kisaran berbeda sesuai jumlah SKU, risiko stok habis, dan kemampuan tim. Yang penting adalah urutan kontribusi dan kebijakan yang konsisten.
Langkah menerapkan analisis ABC
- ✓Bersihkan kode item, satuan, biaya, dan transaksi duplikat.
- ✓Pilih periode yang mewakili pola usaha, biasanya 12 bulan penuh.
- ✓Hitung nilai pemakaian tiap SKU dan total seluruh SKU.
- ✓Urutkan dari nilai tertinggi, lalu hitung kontribusi serta kumulatifnya.
- ✓Tetapkan batas kelas berdasarkan data dan kapasitas kontrol tim.
- ✓Dokumentasikan kebijakan per kelas dan jadwal peninjauan ulang.
Kebijakan yang berbeda per kelas
- Kontrol
- Review saldo
- Kelas A
- Sering, misalnya mingguan
- Kelas B
- Bulanan
- Kelas C
- Berkala
- Kontrol
- Persetujuan pembelian
- Kelas A
- Lebih ketat
- Kelas B
- Normal
- Kelas C
- Sederhana sesuai risiko
- Kontrol
- Cycle count
- Kelas A
- Paling sering
- Kelas B
- Menengah
- Kelas C
- Lebih jarang
- Kontrol
- Perencanaan
- Kelas A
- Per SKU
- Kelas B
- Per SKU/kelompok
- Kelas C
- Pemesanan sederhana
Frekuensi pada tabel hanyalah contoh. Item A bernilai besar layak dihitung lebih sering dan memiliki toleransi selisih lebih kecil. Item C tidak berarti tidak penting; prosesnya cukup dibuat lebih ringan agar tim tidak menghabiskan waktu yang sama untuk baut Rp1.000 dan mesin bernilai ratusan juta.
Tiga kesalahan yang sering terjadi
Pertama, mengelompokkan berdasarkan harga unit saja. Barang murah dengan pemakaian sangat besar bisa menjadi A. Kedua, memakai penjualan rupiah padahal biaya persediaan yang ingin dikendalikan; IAS 2 mengukur persediaan berdasarkan biaya dan nilai realisasi neto, bukan sekadar harga jual. Ketiga, membiarkan kelas tidak berubah bertahun-tahun. Perubahan harga, proyek, dan pola permintaan dapat memindahkan item antar kelas.[1]
ABC tidak cukup untuk item kritis
Suku cadang murah yang menghentikan seluruh mesin mungkin masuk C menurut nilai, tetapi risikonya tinggi. Tandai kekritisan secara terpisah. Kamu juga bisa menambahkan analisis XYZ untuk variasi permintaan; ASCM menyarankan kombinasi ABC dan XYZ agar nilai serta ketidakpastian permintaan sama-sama terlihat. Dengan begitu, item AX bernilai besar dan stabil ditangani berbeda dari AZ yang bernilai besar tetapi sulit diprediksi.[2]
Tinjau kelas dengan perubahan nyata
Perbarui klasifikasi pada jadwal tetap, misalnya setiap kuartal atau semester, dan ketika harga atau proyek besar berubah. Bandingkan perpindahan kelas dengan penyebabnya: kenaikan pemakaian, perubahan biaya, penghentian produk, atau kesalahan master data. Sebelum menurunkan safety stock item yang pindah ke C, minta pengguna menilai lead time dan dampak kehabisan. Simpan tanggal perhitungan, periode data, batas kelas, serta penyetuju agar keputusan pembelian berikutnya memakai versi yang sama.
Vasco membantu tim melihat pergerakan stok dan menjaga riwayat item sebagai bahan analisis operasional. Penetapan kelas ABC tetap keputusan bisnis berdasarkan data, risiko, dan kebijakan pengadaanmu. Tinjau hasil bersama operasi, purchasing, finance, dan pengguna lapangan sebelum mengubah safety stock atau persetujuan. Catat keputusan dan tanggal berlaku agar kebijakan setiap kelas dapat diuji terhadap hasil berikutnya.
Sumber
- [1]IFRS Foundation — IAS 2 InventoriesDiakses 30 Agustus 2026.
- [2]ASCM — The XYZs of Inventory ManagementDiakses 30 Agustus 2026.
- [3]AccountingCoach — Inventory turnover ratioDiakses 30 Agustus 2026.
Baca standar editorial Vasco untuk cara kami memilih sumber, menulis contoh, dan memperbarui koreksi.